BELAJAR DARI PEMBERIAN TUHAN

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia. Dia menganugerahkan akal dan hati kepadanya sebagai alat untuk bertahan hidup di dunia, sekaligus untuk mengenali keagungan penciptanya. Tuhan menginginkan kita untuk memanfaatkannya dengan baik, bukan hanya sekedar pembeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Manusia seharusnya bersyukur terhadap karunia tersebut, karena tanpa keduanya manusia tidak akan memiliki arti apa-apa di hadapan manusia yang lain. Coba perhatikan orang gila yang telah kehilangan akalnya, orang-orang hampir tidak memperdulikannya bahkan tidak jarang mengejek lalu mengusirnya.

Kita dituntut untuk berfikir dengan akal tersebut, sehingga mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Bukan hanya itu, kita juga dibekali dengan hati agar bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Kita merasa iba melihat pengemis di jalan, sehingga nurani kita tersentuh untuk memberi sedikit dari karunia besar yang kita terima dalam hidup. Akal dan hati harus berjalan beriringan agar bisa memhasilkan sesuatu yang berarti bagi orang lain. Akal tahu penderitaan para pengemis, beberapa kali mereka harus mengalami penolakan-penolakan. Jika hati tidak mampu merasa, tangan tidak akan tergerak untuk memberi.

Manusia seharusnya bisa memahami apa yang baik untuk dirinya, sehingga ia tidak akan jatuh dua kali dalam kesalahan yang sama. Akal dan hati merupakan modal besar untuk itu. Jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, peluang untuk memperbaiki diri tidak akan maksimal. Hidup harus berjalan seimbang, kualitasnya sangat ditentukan bagaimana kita memanfaatkan dua karunia besar tersebut. Ternyata baik menurut akal, belum tentu baik untuk diterapkan berdasarkan pertimbangan hati. Tidak memberi sedekah kepada peminta-minta baik menurut akal, karena jika mereka terus diberi akan memunculkan rasa malas bekerja dan terbiasa dengan meminta-minta. Tapi, hati menghasilkan perasaan empati, bagaimana jika musibah menimpa diri dan keluarga saya, sehingga harus meminta-minta agar bisa makan? Sekali lagi, maksimalkanlah dua karunia besar tersebut. Biarkan mereka saling bicara satu sama lain untuk menghasilkan kehidupan yang lebih berkualitas.

Coba bayangkan, Tuhan memberikan tubuh yang sempurna tanpa menagih bayaran kepada kita. Kita dituntut untuk belajar dari ke-Maha Pemurahan-Nya dengan memperaktekkan keikhlasan dalam memberi dan melakukan sesuatu terhadap orang lain. Keikhlasan adalah sebuah sifat yang diperlihatkan oleh Sang Pencipta kepada makhluk-Nya agar mereka bisa saling memperlihatkan keikhlasan itu satu sama lain. Seandainya kita disuruh membayar setiap organ yang kita miliki, tentu setiap detik adalah hutang yang harus kita lunasi. Pantaskah kita menuntut balasan terhadap sedikit bantuan yang kita berikan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s