AKU BERFIKIR MAKA AKU ADA

Ungkapan ini berasal dari Rene Descartes. Seorang filsuf dan matematikawan Prancis. Sejenak diperhatikan, ungkapan ini tidak memiliki arti yang cukup mendalam. Namun dari segi filosofis, Descartes mengungkapkan kalimat ini setelah memperoleh kebenaran dengan cara meragukan segala sesuatu pada mulanya. Seseorang tidak akan mencapai derajat kebenaran tanpa melewati sebuah keadaan ragu terhadap sesuatu. Tidak ada yang pasti menurut Descartes, segalanya harus diragukan. Kenyataan ini menuntut pembuktian melalui pemikiran dan pembuktian, karena ragu merupakan langkah awal menuju sebuah kebenaran yang bisa dibuktikan secara empiris. Singkatnya, keraguan adalah sebuah pertanyaan dasar yang harus dijawab dan tahapan yang harus dilalui untuk memperoleh sebuah kebenaran.

Berfikir adalah salah satu perbedaan antara manusia dengan binatang. Berfikir menuntut adanya kesadaran atas objek yang difikirkan, begitu pula dengan meragukan sesuatu. Ketika kita meragukan sesuatu, hal itu menunjukkan bahwa ada aktifitas berfikir karena ada sesuatu yang janggal atau butuh pembuktian lebih lanjut. Mata fungsinya adalah melihat. Melalui mata, kita bisa membaca. Lantas, kita dengan cepat menyimpulkan bahwa mata satu-satunya yang bertindak sebagai alat untuk melihat objek yang kita baca. Padahal, masih ada unsur lain yang sangat berperan, sehingga mata dapat menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu cahaya. Di sinilah pentingnya berfikir tersebut, sehingga kita tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tanpa memiliki pembuktian yang cukup kuat.

Kebenaran memiliki banyak kriteria, salah satunya adalah rasional. Bagaimana mungkin kita menerima sesuatu yang tidak rasional? Tentu Anda tidak akan menerima jika dikatakan bahwa Anda lahir dari batu. Bagaimana mungkin, benda mati bisa melahirkan makhluk hidup? Di sinilah pentingnya berfikir. Dengan berfikir kita bisa membedakan mana yang benar dan mana salah. Yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah sia-sia menciptakan keyakinan, karena kita harus berusaha untuk menggapainya dengan keyakinan bahwa kita pada akhirnya akan merasa yakin. Tapi, Tuhan juga ingin kita memiliki keyakinan yang sebenar-benarnya. Untuk itu, beberapa kali kita harus terjatuh dalam keraguan-keraguan.

Setiap orang pasti pernah bertanya, kenapa saya dilahirkan? Untuk apa? Sesudah mati, terus ke mana? Berungkali ia bertanya pada dirinya, ia akan memperoleh jawaban yang berbeda-beda. Bahkan tidak jarang menemui keputusasaan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga berujung pada keraguan terhadap keberadaan dirinya. Namun, keraguan-keraguan tersebut adalah jalan-jalan yang harus dilalui untuk mencapai kebenaran yang sesungguhnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s